top of page

BLOG

ESG Survivability: A Missing Dimension in the ESG Debate

  • Writer: A+CSR Indonesia
    A+CSR Indonesia
  • Jun 26
  • 6 min read

Global sustainability standards are becoming increasingly ambitious. Yet many mining companies struggle not because they reject change, but because they lack a realistic pathway to achieve it. Bridging the gap between global expectations and operational realities requires a new way of thinking, one that places organizational survivability at the center of ESG transformation.

 

Ada satu dimensi yang selama ini relatif kurang mendapat perhatian dalam diskusi mengenai standar keberlanjutan. Sebagian besar kerangka Keberlanjutan dan/atau ESG menilai apakah perusahaan memenuhi standar tertentu. Audit memeriksa kesesuaian prosedur, efektivitas sistem, kualitas dokumentasi, dan pencapaian berbagai indikator. Pendekatan tersebut sangat penting karena memberikan ukuran yang objektif terhadap kinerja perusahaan.


Namun audit pada dasarnya menangkap kondisi pada satu titik waktu. Ia menunjukkan di mana posisi perusahaan ketika penilaian dilakukan. Yang jauh lebih sulit dijawab adalah apakah perusahaan memiliki kemampuan untuk mempertahankan dan terus meningkatkan kinerja tersebut dalam jangka panjang.


Transformasi organisasi tidak berhenti ketika sertifikat diterbitkan. Justru setelah itu tantangan sesungguhnya dimulai.


Sistem yang telah dibangun harus terus dipelihara. Kompetensi karyawan harus diperbarui. Hubungan dengan masyarakat harus dijaga. Temuan baru harus ditindaklanjuti. Risiko-risiko baru akan terus muncul seiring perubahan operasi, pergantian personel, dinamika politik lokal, maupun perubahan ekspektasi para pemangku kepentingan.


Dengan kata lain, keberhasilan implementasi tidak hanya bergantung pada kemampuan mencapai standar, tetapi juga pada kemampuan mempertahankan perubahan tersebut.

Saya menyebut kemampuan itu sebagai ESG Survivability.


ESG Survivability adalah kemampuan organisasi untuk mempertahankan kapasitas operasional, kesehatan finansial, kemampuan kelembagaan, dan legitimasi sosial sambil terus menjalani transformasi menuju standar keberlanjutan yang semakin tinggi.


Konsep ini berangkat dari satu pengamatan sederhana. Perusahaan yang berhasil memperoleh sertifikasi atau penjaminan belum tentu merupakan perusahaan yang paling siap menjalani transformasi dalam jangka panjang.


Sebaliknya, perusahaan yang bergerak lebih lambat belum tentu memiliki komitmen yang lebih rendah. Dalam beberapa kasus, mereka justru sedang membangun fondasi organisasi agar perubahan yang dilakukan benar-benar dapat dipertahankan.


Perbedaan tersebut penting karena keberlanjutan bukan hanya persoalan mencapai tujuan, tetapi juga kemampuan untuk terus bergerak setelah tujuan pertama tercapai.


Transformation Is Not a Sprint


Selama dua dekade terakhir, serta pengalaman mendampingi dan menyaksikan bagaimana perusahaan berniat memperbaiki kinerja ESG, saya menyaksikan dinamika pasang-surut implementasinya. Bahkan pertanyaan seperti: “Apakah kita siap untuk comply dengan standar internasional yang diminta investor atau buyer terlontar dalam rapat high-level management. Ini mereka sadari setelah menyelesaikan serangkaian audit, mendapat daftar kesenjangan atas standar dan  Corrective Action Plan (CAP), serta kenyataan budaya organisasi dan keputusan-keputusan  yang tidak segampang rekomendasi para auditor dalam dokumen due-dilligence. Satu line rekomendasi dalam CAP bisa  membutuhkan budjet ratusan ribu sampai jutaan US dolar. Beberapa rekomendasi jika tidak dikelola dengan baik, malah berujung konflik di lapangan.


Banyak organisasi memulai program transformasi dengan antusiasme yang tinggi.

Tim dibentuk. Konsultan direkrut. Kebijakan baru diterbitkan. Pelatihan dilakukan. Audit dipersiapkan.


Pada tahun-tahun awal, perubahan sering kali berlangsung cepat. Kesulitan biasanya muncul setelah fase tersebut.


Anggaran mulai menyesuaikan siklus harga komoditas. Pergantian manajemen membawa prioritas baru. Personel yang berpengalaman berpindah ke perusahaan lain. Budaya kerja silo antar departemen masih kuat. Target produksi meningkat. Pada saat yang sama, tuntutan keberlanjutan juga terus berkembang. Bahkan hal-hal yang merupakan instrusi politik nasional dan lokal masuk mencari peluang menggali keuntungan.


Meaningful engagement atau broader community support yang diminta standar, kadang lebih mudah dituliskan daripada dilaksanakan.


Hubungan dengan masyarakat hampir tidak pernah berjalan secara linear. Sebuah proses konsultasi yang sudah berlangsung baik dapat berubah hanya karena kepala desa berganti, konflik internal masyarakat muncul, broker tanah baru mulai bermain, harga komoditas naik, atau sengketa lama kembali mencuat akibat persoalan waris dan dinamika politik lokal. Bahkan isu nasional dapat tiba-tiba masuk ke ruang musyawarah desa dan mengubah arah pembahasan. Semua itu merupakan bagian dari realitas sosial yang tidak sepenuhnya berada dalam kendali perusahaan. Prosedur yang baik tetap penting, tetapi keberhasilan implementasi pada akhirnya juga ditentukan oleh kemampuan organisasi beradaptasi dengan kompleksitas yang terus berubah.


Absurd? Tapi itulah kenyataan di negeri ini.  Di sinilah daya tahan organisasi mulai diuji.


Transformasi keberlanjutan tidak berbeda dengan membangun kemampuan institusional lainnya. Ia tidak tumbuh secara linier. Ada periode percepatan, ada masa stagnasi, bahkan ada fase ketika organisasi harus mundur beberapa langkah untuk memperbaiki fondasi yang belum cukup kuat.


Sayangnya, dinamika seperti ini jarang mendapat ruang dalam diskusi mengenai standar. Yang lebih sering terlihat adalah hasil akhirnya: perusahaan harus comply dan melaksanakan CAP untuk  memperoleh sertifikasi atau penjaminan. 


Padahal perjalanan menuju titik tersebut sering kali jauh lebih menentukan daripada sertifikat itu sendiri.

 

The Missing Piece: A Responsible Transition Pathway

Jika Implementation Readiness Gap menjelaskan sumber persoalan, dan ESG Survivability menjelaskan apa yang perlu dijaga selama proses transformasi, maka pertanyaan berikutnya adalah bagaimana perusahaan sebaiknya bergerak.

Jawabannya bukan memperlambat standar, tetapi memperbaiki cara menuju standar tersebut.


Saya mengusulkan konsep Responsible Transition Pathway.


Responsible Transition Pathway adalah pendekatan transisi yang bertahap, berbasis risiko, dan layak secara operasional maupun komersial sehingga perusahaan dapat menginternalisasi standar keberlanjutan tanpa mengganggu stabilitas organisasinya.


Intinya bukan memberi kelonggaran terhadap standar. Intinya adalah membangun urutan perubahan yang realistis.


Tidak semua organisasi memulai perjalanan dari titik yang sama. Ada perusahaan yang telah memiliki sistem manajemen yang matang, pengalaman panjang bekerja dengan standar internasional, dan sumber daya yang memadai. Ada pula perusahaan yang masih membangun fungsi-fungsi dasar ESG sambil menghadapi tekanan produksi, keterbatasan tenaga ahli, dan kompleksitas sosial yang tinggi.


Mengharapkan kedua kelompok tersebut bergerak dengan kecepatan yang sama justru berisiko menghasilkan transformasi yang bersifat administratif, bukan substantif.


Diskusi di ruang manajemen kadang mengusulkan untuk melakukan ring-fencing. Tidak perlu mendaftarkan seluruh konsesi atau korporasi ke dalam sistem standard (IRMA, misalnya), namun memilih mengisolasi satu blok atau pad tambang spesifik yang kinerjanya paling optimal, untuk menyuplai porsi pasar yang diwajibkan buyer yang mungkin hanya menyerap 16% (misalnya) dari total produksi seluruh konsesi.  Wilayah konsesi lain, menggunakan standar yang tidak terlalu keras atau tidak menguras sumber daya. Ini keputusan wajar dan banyak dipilih.  


Responsible Transition Pathway mengakui kenyataan tersebut tanpa menurunkan ambisi keberlanjutan.


What Might a Responsible Transition Look Like?


Pendekatan ini tentu akan berbeda pada setiap perusahaan. Namun terdapat beberapa prinsip yang menurut saya layak dipertimbangkan.


Pertama, transformasi sebaiknya dimulai dari area operasi yang paling siap. Pendekatan seperti ring-fencing memungkinkan perusahaan memusatkan sumber daya, menguji sistem baru, dan membangun pembelajaran organisasi sebelum memperluas penerapannya ke lokasi lain.


Kedua, investasi pada kapasitas organisasi perlu mendapat perhatian yang sama besarnya dengan investasi pada infrastruktur fisik. Membangun fasilitas pengelolaan lingkungan memang penting, tetapi membangun tim yang mampu mengoperasikan, mengevaluasi, dan terus memperbaiki sistem tersebut jauh lebih menentukan dalam jangka panjang.


Ketiga, hubungan antara perusahaan dan pembeli perlu bergeser dari sekadar transaksi menuju kemitraan transformasi. Jika pasar menghendaki mineral yang diproduksi dengan standar yang lebih tinggi, maka pembeli juga memiliki kepentingan untuk mendukung proses transisi tersebut, baik melalui kontrak jangka panjang, mekanisme harga yang lebih mencerminkan biaya transformasi, maupun dukungan terhadap pengembangan kapasitas pemasok.


Keempat, keberhasilan tidak hanya diukur dari jumlah persyaratan yang dipenuhi, tetapi juga dari kemampuan organisasi mempertahankan perubahan tersebut. Transformasi yang berlangsung sedikit lebih lambat tetapi mampu bertahan selama puluhan tahun sering kali menghasilkan dampak yang lebih besar dibandingkan perubahan yang sangat cepat namun kehilangan momentumnya setelah proses sertifikasi selesai.


Beyond Certification


Pada akhirnya, diskusi mengenai standar keberlanjutan perlu bergerak melampaui pertanyaan apakah perusahaan telah memperoleh sertifikasi atau penjaminan.


Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah sertifikasi tersebut benar-benar mencerminkan organisasi yang semakin kuat, hubungan yang semakin baik dengan masyarakat, dan kemampuan yang semakin besar untuk menghadapi tantangan di masa depan.


Jika jawabannya ya, maka sertifikasi telah menjalankan fungsinya sebagai pendorong transformasi.


Namun jika sertifikasi hanya menghasilkan organisasi yang semakin sibuk memenuhi dokumen, semakin lelah menghadapi audit, atau semakin terbatas ruangnya untuk belajar dan beradaptasi, maka ada sesuatu yang perlu kita perbaiki dalam cara kita memandang proses transformasi itu sendiri.


Standar keberlanjutan akan terus berkembang. Ada yang mengarah kepenyatuan, tetapi selalu muncul standar baru. Tekanan pasar juga tidak akan berkurang. Tantangan berikutnya bukan lagi apakah industri ekstraktif  mampu mengikuti perubahan tersebut, tetapi bagaimana memastikan bahwa perubahan itu benar-benar dapat dihidupi oleh organisasi yang menjalankannya.


Selama ini diskusi mengenai  suatu standar lebih sering diposisikan sebagai persoalan kepatuhan: perusahaan memenuhi standar atau gagal memenuhinya. Cara pandang tersebut terlalu menyederhanakan persoalan. Bagi banyak perusahaan, tantangan yang sesungguhnya bukan sekadar memenuhi persyaratan audit, melainkan bagaimana menjalani transformasi tanpa kehilangan kemampuan untuk terus beroperasi, berinvestasi, dan memperbaiki kinerjanya dari waktu ke waktu.


Perspektif tersebut membawa kita pada gagasan ESG Survivability. Banyak studi yang menyatakan bahwa dalam jangka panjang kinerja ESG yang baik akan menguntungkan bagi perusahaan. Studi-studi tersebut tidak terbantahkan. Namun, pengalaman dari lapangan melihat untuk sampai ke kondisi tersebut penuh tantangan.   Dalam kenyataannya tujuan jangka panjang untuk mencapai tujuan keberlanjutan seringkali berhadapan dengan kenyataan-kenyataan jangka pendek yang tidak mudah.


Keberhasilan transformasi menuju standar keberlanjutan tidak semestinya diukur hanya dari seberapa cepat sebuah perusahaan memperoleh sertifikasi. Yang tidak kalah penting adalah apakah perusahaan mampu mempertahankan kapasitas organisasinya, menjaga kesehatan finansial, membangun kepercayaan para pemangku kepentingan, dan terus meningkatkan kinerjanya setelah sertifikasi diperoleh. Sertifikasi atau penjaminan adalah salah satu tonggak dalam proses perubahan, bukan tujuan akhirnya. Implementasi standar seperti IRMA, dan standar ESG generasi berikutnya, memerlukan Responsible Transition Pathway.


Perusahaan membutuhkan jalur transisi yang kredibel, bertahap, dan berbasis risiko sehingga setiap peningkatan standar benar-benar dapat diserap ke dalam sistem, budaya kerja, dan praktik operasional sehari-hari. Pendekatan seperti ini tidak menurunkan ambisi keberlanjutan. Justru sebaliknya, ia memperbesar peluang agar perubahan tersebut benar-benar terjadi, bertahan dalam jangka panjang, dan menghasilkan manfaat yang nyata bagi masyarakat, lingkungan, maupun keberlanjutan bisnis itu sendiri.

 

 
 
 

Comments


Bogor Baru Blok C2/11, Bogor Baru, Jawa Barat, 16127 

Call us : 62-251-8363840, +62-811-8685-006 

  • Facebook
  • Twitter Clean
  • White Google+ Icon
bottom of page