Jalan Panjang Secangkir Kopi: Memahami Risiko di Sepanjang Rantai Pasok
- A+CSR Indonesia

- Apr 24, 2018
- 3 min read
Updated: Feb 7, 2020
By: Noviansyah Manap, Direktur Utama A+CSR Indonesia

Berapa cangkir kopi yang Anda minum hari ini? Bagi penikmat kopi, 3-5 cangkir sehari mungkin kurang. Kebanyakan peminum kopi tidak mengetahui bagaimana jejak langkah secangkir kopi hingga sampai di mejanya dan diseruput dengan penuh kenikmatan.
Tapi pedulikah Anda, bagaimana secangkir kopi itu sampai di meja Anda? Siapa yang memproduksi, bagaimana proses produksi, siapa saja yang berperan sehingga kopi tersebut hadir di meja kita setiap hari? Anda membuat kopi sendiri atau Anda membeli kopi di coffee shop, asal kopi selalu sama, dihasilkan oleh petani kopi di seluruh dunia. Kebanyakan petani kecil, smallholder, sebelum akhirnya komoditas kopi tersebut mengalami perlakuan dan perjalanan panjang hingga sampai ke konsumen.
Pertanyaan tentang darimana secangkir kopi berasal akan bertambah panjang jika kita ingin mengetahui informasi apakah kopi tersebut diproduksi dengan cara-cara berkelanjutan? Apakah petani menggunakan bahan-bahan berbahaya bagi lingkungan, atau apakah pekerja di kebun-kebun dibayar dengan upah buruh yang layak. Apakah kopi hasil petani dibayar dengan harga yang adil ataukah ditekan untuk melepas produknya semurah mungkin oleh perusahaan yang memproduksi kopi yang kopinya Anda nikmati setiap hari? Adakah buruh anak di kebun-kebun kopi tersebut sehingga merampas masa kecil mereka yang seharusnya bermain dan belajar?
Jika Anda telah mengetahui informasi atas pertanyaan-pertanyaan tersebut, Anda mungkin akan bertanya lebih jauh, seberapa besar bagian dari harga kopi tersebut balik kembali kepada petani?
Para petani sering tidak menghitung biaya sesungguhnya produksi suatu komoditas. Biaya tenaga kerja keluarga tidak pernah dihitung. Penyusutan alat-alat pertanian, biaya risiko kecelakaan, risiko kerugian akibat gagal panen tidak pernah dimasukkan sebagai biaya. Sementara perusahaan-perusahaan memasukkan semua risiko kerugian ke dalam harga jual dan asuransi.
Kita mungkin menikmati kopi dan masih memilih-milih harga yang murah atau memilih kopi yang premium karena menganggap berkelas. Perusahaan kopi mungkin menentukan harga jual kopi dengan memasukkan semua unsur biaya. Kembali lagi apakah para petani kecil di seluruh dunia tetap tertarik untuk menanam dan memanen kopinya dan menjadikan kopi sebagai mata pencaharian yang layak bagi keluarganya? Apakah dengan harga yang diterima, menyebabkan petani tetap mau berproduksi secara sehat dan melestarikan lingkungannya? Atau karena terpaksa, sebab tidak ada komoditas pengganti, petani tetap menanam kopi sementara pendapatan tidak pernah naik, dan kemiskinan tetap melilit. Pemilik pabrik kopi dan coffee shop mungkin semakin moncer bisnisnya, dan keuntungan besar didapat.
Semua produk yang dikonsumsi dan dipakai saat ini telah melalui rantai suplai yang panjang dan kadang-kadang sangat rumit. Hampir tidak ada produk modern yang dapat dihasilkan oleh satu produsen sendirian. Ke hilir terkait dengan rantai pasok, ke hulu terhubung dengan rantai pasar. Suatu produk yang sampai di tangan konsumen merupakan hasil kegiatan dari banyak pihak yang saling tergantung.
Dalam perspektif tanggung jawab sosial perusahaan, kisah secangkir kopi di atas dapat menjadi gambaran betapa banyak informasi yang terkandung di balik secangkir kopi. Bagi merek kopi terkenal dan mendunia, memastikan bahwa seluruh pemasok kopinya mematuhi code of conduct pemasok berkelanjutan sangat penting. Perusahaan harus memastikan bahwa di dalam produk kopinya tidak ada ‘kandungan’ tenaga kerja murah, buruh anak, perusakan lingkungan, dan pelanggaran etika bisnis lainnya.
Setelah mengetahui informasi tentang jalan panjang secangkir kopi, apakah Anda akan memilih-milih produsen kopi dengan pertimbangan sosial dan lingkungan, ataukah Anda melaksanakan ritual meminum kopi seperti biasa, ada secangkir kopi di meja yang Anda pesan dan Anda menyeruput menikmati kelezatan secangkir kopi.
Tanggung jawab perusahaan tidak hanya pada sumberdaya yang dimiliki dan produk yang dihasilkan tetapi juga pada seluruh rantai pasok (supply chains) produksinya. Ada risiko sosial, lingkungan, HAM, dan prinsip-prinsip tatakelola di seluruh rantai pasok yang jika diabaikan dapat membahayakan perusahaan. Secara khusus, risiko di sepanjang rantai pasok antara lain adalah: pencemaran dan perusakan lingkungan, perusakan habitat hewan yang dilindungi, pelanggaran terhadap hak-hak buruh, penggunaan buruh anak, kondisi lingkungan kerja yang buruk dan tidak aman, pelanggaran HAM, melakukan praktik penyuapan dan korupsi, sampai dengan pelanggaran terhadap kesejahteraan hewan (animal welfare) bagi industri tertentu.
Rantai pasok dapat mengganggu perusahaan dengan berbagai macam cara. Pelanggaran terhadap kinerja ESG (environment, social, governance) dapat merugikan perusahaan melalui rusaknya citra dan kredibilitas perusahaan, sampai boikot para konsumen. Sedangkan penghentian operasi perusahaan pemasok karena demonstrasi pekerja atau terjadinya bencana dapat mengganggu operasi perusahaan secara langsung.
Potensi kerugian jika terjadi masalah di rantai pasok sangat besar. Perusahaan harus melakukan serangkaian tindakan mulai penyelidikan, penarikan barang yang sudah beredar, dan memperbaiki pengelolaan dan pengawasan seluruh rantai pasok yang memakan biaya sangat besar. Sedangkan memulihkan citra perusahaan akibat insiden tersebut membutuhkan waktu yang lama.
Cara yang paling baik dalam mengelola rantai pasok adalah dengan melakukan komunikasi dan pengelolaan hubungan secara terus menerus. Membagi CoC (code of conduct) perusahaan dan mengajarkan cara-cara penerapannya, sampai melakukan peningkatan kapasitas perusahaan pemasok secara regular.
Jadi, segelas kopi yang Anda minum, sebenarnya mengandung banyak cerita dan upaya para pelaku sepanjang rantai komoditas. Kopi Anda mungkin pahit atau manis, begitu juga para pelaku rantai kopi.




Comments